Di tulis Oleh : Shantiwangi.com

VIVAHA

Bagi para pemula yang sedang menekuni tentang Hindu-Dharma, maka kata-kata di atas pastilah menimbulkan tanda Tanya? Apakah Kama itu berhubungan dengan Karma? Apakah Vikarma itu, dan apakah sama atau mirip dengan A-Karma, dan mengapa harus sedemikian banyak kata-kata Sansekerta yang terkesan mirip tetapi berlainan makna? Inilah kekuatan dan kehebatan bahasa Sansekerta yang pada intinya, setiap akar kata pasti berhubungan dengan kata-kata lain, sehingga lahir kata-kata baru dengan makna-makna yang baru.

Kata kama itu sendiri berarti nafsu, hasrat, keinginan, dan sebagainya. Tetapi burukkah inti maknanya? Belum tentu demikian! Kamasutra misalnya, malahan menjelaskan pendidikan seks secara teramat mendetail, bahkan pada zaman itu dunia Barat belum eksis secara optimal. Ada jenis kama yang baik dan juga jenis kama yang buruk, semua tergantung pada intinya yang mendasar, dan inti kama ini disebut vasana dalam bahasa Sansekerta. Tanpa vasana (unsur keinginan yang paling dalam), maka kama tidak akan terpicu keluar atau tergerak dan beraksi. Dan seandainya kama tidak timbul maka karma (pelaksanaan) sehari-hari tidak akan tercipta, dan manusia dan para dewata tidak akan bekerja. Jadi tinggal manusianyalah yang menentukan ingin berkarma yang baik atau sebaliknya. Untuk itu vasana harus dilatih, jalan pikiranpun harus senantiasa terserap kedalam keselarasan yang harmonis dan penuh dengan kesadaran. Hasrat untuk berolah-raga pastilah suatu bentuk kama yang positif apalagi akan menghasilkan efek karma yang baik yaitu kesehatan yang prima.

Sebaliknya hasrat atau niat melakukan pencurian walaupun kecil-kecilan akan menimbulkan karma yang buruk, dan merugikan diri sendiri dan pihak-pihak yang terkait. Dapatkah seseorang eksis tanpa kama dan karma ? Mustahil bagi seseorang untuk menjalani kehidupan ini tanpa keduanya! Lalu apakah itu a-karma (tidak melakukan sesuatu) dan apakah Vikarma (pelaksanaan yang salah atau menyimpang)? Di bawah ini terdapat beberapa sloka-sloka Bhagawat-Gita yang amat menarik untuk disimak, khususnya di bab IV yang sering disebut sebagai Doktrin atau Ajaran Rahasia (Gnana-Yoga) atau “Pengetahuan tentang Kebijaksanaan”.

Konon Sri Krishna di B-Gita menjelaskan pada Arjuna bahwa pengetahuan nan tanpa habis ini telah hadir juga pada masa-masa yang amat silam, yaitu masanya para dewata dan resi-resi sorgawi sebelum hadirnya manusia di muka bumi ini. Namun kemudian pengetahuan ini seakan-akan sirna di makan sang waktu, dan dikembalikan lagi ke Arjuna (wakil umat manusia) di pentas Baratayudha. Sabda Krishna : “Apakah aksi (karma) itu? dan apakah a-karma itu? Kaum yang bijaksanapun kalut memikirkannya. Namun akan kuterangkan semua itu padamu, Arjuna. Agar dikau terlepas dari segala noda dan kesalahan”. Sri Krishna yang penuh welas asih, setapak demi setapak menjelaskan kepada umat manusia agar seharusnya bekerja dan melaksanakan setiap tugas duniawi dan spritualnya tanpa pamrih, namun berdasarkan sebuah yagna (persembahan, pengorbanan) suci, karena pada mulanya Hyang Prajapati menciptakan seisi jagat raya ini dengan mengucapkan kata SWAHA (dengan ini aku mengorbankan diriku sebagai persembahan bagi Tuhan Yang Maha Esa).

Tuhan Yang Maha Esa dalam bahasa Sansekerta disebut juga Param Brahman (Tuhan yang hadir dari permulaan sampai akhir, dan tidak dapat dijabarkan). Bagi manusia duniawi ini, apakah mampu berkorban seperti halnya Hyang Prajapati? Sri Krishna jelas mengatakan mampu, dan caranya adalah dengan membebaskan diri kita dari berbagai unsur-unsur ilusi seperti nafsu yang salah, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, keserakahan (kama, loba, krodha, angkara) dan sebagainya.
Melalui berbagai disiplin, pembersihan diri dan kebijaksanaan, diiringi bakti yang tulus, maka manusia itu akan dibimbing lebih jauh kearah paling dalam dan rahasia yang hadir di dalam raganya sendiri. Relung nurani misterius ini disebut Guhayam. Bertindak atau melakoni arah spiritual ini disebut karma yang positif kalau teriring unsur non-pamrih.

“Seseorang seharusnya sadar apakah perbedaan suatu aksi dengan aksi yang lainnya, dan aksi (tindakan) apa saja yang salah sifatnya (vikarma), juga harus difahami apakah non-aksi (a-karma) itu.”… (B-Gita, Bab IV, sloka 17).
“Seseorang yang menyaksikan non-aksi dalam aksi, dan aksi dalam non-aksi, maka di antara umat manusia, ia disebut buddhiman (budiman, bijaksana). Hidupnya selaras dengan keharmonisan (yuktah), walaupun ia senantiasa terlibat total dalam berbagai ragam pelaksanaan.”…(B-Gita, Bab IV, sloka 18).

Sang manusia budiman ini sangat tenang di tengah-tengah berbagai situasi dan aktivitasnya sehari-hari, karena setiap pelaksanaan, aksi ataupun tindakannya akan selalu bersandar dan “dikompromikan” dahulu dengan Sang Atman yang hadir di dalam dirinya. Ia selalu “check and recheck” sebelum bertindak apapun juga. Ia pun secara tulus tidak pernah mengharapkan pamrih sekecil apapun juga bagi setiap karmanya, jadi walaupun ia sibuk beraktivitas sepanjang waktu, sebenarnya ia “tidak bekerja”, karena setiap pekerjaan baginya adalah persembahan atau yagna bagi Sang Pencipta.

Apakah aksi dalam non-aksi (a-karma)? Misalnya ada tetangga yang teramat membutuhkan sesuatu bantuan, dan anda membantunya tanpa pamrih, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai suatu tindakan a-karma, karena karma tersebut secara sadar sudah anda persembahkan kepada YME. Namun seandainya anda berdiam diri saja, bahkan tidak pro-aktif padahal anda sanggup membantunya, maka reaksi anda ini disebut vikarma (perbuatan atau aksi yang salah).

Tentu saja terdapat banyak variasi vikarma ini, apalagi kalau anda berada di luar lingkungan umat Hindu-Dharma. Dalam hal ini anda harus pandai menggunakan logika, etika dan nurani, karena setiap perbuatan baik-buruk pasti akan berdampak (hukum karma universal). Seorang yang budiman akan tetap shanti pada setiap lokasi, situasi dan berbagai variasi pelaksanaannya. Dengan mantra OM TAT SAT (semoga semua yang kupersembahkan (kulakukan) sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa), ia akan terlepas dari berbagai unsur-unsur negatif.

Sri Krishna juga menambahkan, bahwasanya setiap orang yang telah menanggalkan berbagai rasa keterikatannya pada setiap tindakannya, selalu merasa cukup dengan apa adanya, juga tidak bersandar kepada orang lain. Manusia yang memiliki sifat-sifat ini tidak melakukan apapun juga walaupun ia terlibat aktif melalui berbagai karya dan kelakuannya.
“Selalu merasa terpenuhi dengan yang didapatkannya, bebas dari rasa dualisme yang beroposisi (dwandas), tanpa rasa iri, cemburu, keserakahan, bersikap sama (adil, balans) untuk setiap sukses maupun kegagalan, maka….. walaupun ia bekerja, ia tidak terikat” …….. (B-Gita, Bab IV, sloka 22).
Selanjutnya


materi materi yang disajikan dalam website ini adalah murni hasil karya dari Shantiwangi.com, bisa diperbanyak dengan tetap menampilkan sumber artikelnya untuk kepentingan umat seDharma dan untuk membantu pendidikan tentang Dharma para generasi muda. Shantiwangi.com @2010 by Komang